Mengenal Sosok KH Husein Ilyas, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Misbar Mojokerto

Kontributor: -892 views
KH Husein Ilyas
KH Husein Ilyas

Kali ini penulis postingan ini akan mengulas ulama Aswaja yang masih sugeng (hidup) di tengah2 masyarakat zaman ini. Beliau ini dikenal alim, wara’, zuhud dan insya Allah termasuk waliyullah. Beliau adalah KH. Husein Ilyas (Mbah Yai Khusen Ilyas), pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Misbar Karangnongko, Mojokerto.

KH Husein Ilyas adalah kiai sepuh yg sangat disegani dan dihormati di Jawa Timur. Di pondoknya yg sederhana di Karangnongko, Mojokerto, hampir setiap hari banyak orang yg datang mulai silaturrahmi,MENGAJI (Jum,at pagi,Sabtu,Selasa, malam 17 an) sampai meminta doa dan restu. Menurut beliau,siapa saja boleh datangke pondoknya. Biar itu orang biasa, pejabat, tokoh agama, dan lain sebagainya, beliau akan menerimanya dgn tangan terbuka. biasanya pondoknya selalu ramai didatangi orang2 yg ingin minta restu, petunjuk, atau sekedar silaturahim. Tetapi beliau menolak jika dimintai dukungan. Beliau menyadari, beliau adalah panutan masyarakat terutama warga NU, jika beliau mendukung ini itu, beliau kasihan masyarakat yg kebingungan nantinya.

Silsilah

Menurut keterangan yg dihimpun, beliau adalah keturunan Raden Kyai Ngabehi Ronggowarsito. Berikut silsilah beliau :

RONGGOWARSITO –> NUR FATAH –> NUR IBRAHIM –> SYEH YASIN SURAKARTA –> NUR NGALIMAN/ SENOPATI SUROYUDO –>MUSYIAH –> KH. ILYAS –> KH. HUSEIN ILYAS (MOJOKERTO)

Karomah

Mbah Yai Khusen pernah bercerita bagaimana sengsaranya dulu ketika zaman Jepang. Ketika itu, tentara Jepang memberlakukan jam malam, mereka melarang rakyat Indonesia untuk keluar rumah menjelang sore hari. Hukumannya dibunuh di depan umum bila kedapatan keluar rumah di sore dan malam hari, karena dianggap pemberontak. Pernah suatu ketika ada yg mencari tahu, apa sebenarnya yg dilakukan tentara Jepang di sore dan malam hari itu. Ternyata tentara Jepang tersebut di waktu sore itu mengangkuti hasil tanam rakyat untuk dibawa ke negara mereka. Memang di waktu itu diberlakukan peraturan semacam tanam paksa untuk kebutuhan logistik Perang Asia Timur Raya. Hasil panen yg dihasilkan oleh rakyat, sebagian besar diangkut Jepang sedangkan rakyat diberi bagian sedikit sekali. Proses memanen juga harus dalam pengawasan tentara Jepang, jika ketahuan memanen sendiri, maka akan dihukum mati.

Pada suatu waktu, ada seorang petani yg nekat memanen hasil tanam sendiri tanpa pengawasan tentara Jepang. Sayang usaha nekat petani tsb ketahuan oleh tentara Jepang, sehingga petani itu ditembak oleh tentara Jepang. Anak petani tsb akhirnya melapor kejadian tsb pada Mbah Yai Khusen yg waktu itu masih muda. Mendapat laporan tsb, Mbah Yai Khusen pun akhirnya mengajak teman2nya ke sawah untuk memanen padi menjelang Maghrib.

Ketika sedang memanen, Mbah Yai Khusen didatangi beberapa tentara Jepang yg sedang berjaga dgn membawa anjing. Melihat Mbah Yai Khusen, anjing tentara Jepang tsb malah beringsut mundur, lari menjauhi Mbah Yai. Sehingga sebagian tentara Jepang itu malah kerepotan mengejar anjingnya yg lari.

Sementara tentara Jepang yg lain, menodongkan senjata pada Mbah Yai Khusen dan teman2nya. Tiba2 senjata yg ditodongkan ke arah Mbah Yai itu meleleh seperti dipanaskan. Tentara2 itu pun kaget dan ikut2an lari terbirit2. Mbah Yai Khusen selalu berprinsip bahwa menjadi manusia itu tidak boleh takut pada siapapun dan apapun, kecuali hanya takut pada Allah SWT. Karena manusia itu Khalifatullah, sbg kholifah Allah itu sudah seharusnya tidak boleh takut apapun selain takut pada Allah.

Lalu diceritakan pula, ketika Mbah Yai masih muda, kalau beliau sedang puasa selalu menyendiri di hutan atau di manapun pokoknya jauh dari keramaian agar tidak diketahui orang dan ditanyai macam2. Suatu ketika beliau dalam uzlahnya itu tertidur di suatu hutan, lalu tiba2 dibangunkan Gus Zuli (Romo Yai Djazuli Utsman). Mbah Yai Khusen terkejut ketika terbangun banyak teman2nya dan Gus Zuli di sekelilingnya. Teman2 beliau bilang kalau Mbah Yai Khusen sudah hilang berminggu2, padahal beliau merasa hanya tidur beberapa menit. Anehnya, teman2 Mbah Yai Khusen tidak melihat beliau tertidur di tempat tsb, hanya Gus Zuli yg tahu, sebab itulah yg membangunkan Mbah yai Khusen adalah Gus Zuli. Lalu Mbah Yai Khusen bercerita pada Gus Zuli tentang tentang mimpi ketika tertidur tadi.

Dalam mimpi Mbah Yai Khusen bermimpi bahwa suatu saat ada kiai besar yg akan lahir di tempat ini dan tempat ini akan ramai setelah kiai besar terbut wafat. Gus Zuli hanya menjawab, benar. Tempat tsb sekarang adalah makam dari ulama muassis Dzikrul Ghofiliin, KH. Hamim Jazuli atau Gus Miek.

Selain itu, Mbah Yai Khusen hingga kini selalu dimintai doa dan gemblengan kekebalan bagi anggota Banser ketika akan melaksanakan tugas. Berbagai cabang Banser dari seluruh daerah selalu meminta gemblengan kebal senjata pada Mbah Yai Khusen. Gemblengan itu melalui ritual doa dan rajah menggunakan alat tulis yg dituliskan pada punggung masing2 anggota Banser.

Kedekatan Dengan Gus Dur

Mbah Yai Khusen selalu bersemangat kalau bercerita tentang Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur adalah pribadi yg luar biasa. Beliau sering didatangi Gus Dur selama presiden RI ke-4 itu masih hidup, hingga ada kejadian lucu. Gus Dur kalau sowan menemui Mbah Yai, tanpa pengawalan dan tahu2 sudah ada di halaman rumah beliau. Begitu Gus Dur pulang, baru polisi2 datang menemui Mbah Yai, agar melapor jika akan ada pejabat atau tamu penting. Mbah yai hanya beralasan, Bagaimana mau lapor, wong pejabatnya datangnya tidak memberitahu. Dan itu kejadian berulang kali.

Hingga kini, anak2 Gus Dur dan berbagai tokoh NU selalu mengikuti langkah Gus Dur untuk selalu meminta nasehat Mbah Yai Khusen dalam mengambil keputusan2 penting. Hal ini menandakan kealiman dan bijaksananya seorang KH. Khusein Ilyas dalam ngemong masyarakat yg sangat patut menjadi perhatian kita, setiap tutur dan nasehatnya adalah oase yg dibutuhkan masyarakat yg hidup di zaman sekarang.

Kecintaan Terhadap NU

Mbah Yai Khusein adalah Rais Syuriah NU Cabang Kab. Mojokerto sejak 2003 sampai 2013 Ada cerita dibalik pemilihannya sebagai rais syuriah, sebetulnya KH Husein Ilyas enggan dicalonkan dan memilih pulang ke pondok pesantren Almisbar yg diasuhnya. Prinsip beliau, jangankan memegang jabatan tertinggi, jadi ranting saja tidak mau, ada tanggung jawab besar yg diemban pemangku jabatan tsb. Namun para pendukung beliau berhasil meyakinkan KH Husein bila kehadirannya sangat dibutuhkan NU. Beliau menyadari, NU didirikan para ulama dan banyak yg menghendaki agar KH. Husein dicalonkan, akhirnya beliau pun menjadi rais syuriah NU cabang Kab. Mojokerto.

Halo Pembaca XNews.id, Xpresikan Penilaianmu Terhadap Konten Berita XNews.id, Ini Akan Menjadi Masukan Bagi Kami Tim Redaksi XNews.id, Berikan Rate Penilaian Dengan Menekan Gambar Bintang Dibawah Ini, Terima Kasih !!