Persekusi Terhadap Pelaku Maksiat, Maksiat Itu Sendiri

Kontributor: -20 views

Oleh : Ayik Heriansyah

(Pengurus LD PWNU Jabar)

TINDAKAN pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas karena melakukan maksiat, terulang lagi, jika pemahaman terhadap pelaku maksiat tidak berubah di waktu dan tempat yang lain.

 Sikap main hakim sendiri (vigilante) berawal dari sikap “main tafsir dan syarah” sendiri. Tanpa merujuk kepada pemegang otoritas ilmu dan hukum yang diakui masyarakat dan negara.

 Pelaku persekusi merasa sedang melaksanakan perintah Allah swt, yaitu hisbah. Hisbah adalah kewajiban individu atau bersama untuk melakukan campur tangan dan amar makruf nahi mungkar sesuai dengan norma syariah. Berbeda dengan dakwah dan nasihat, hisbah melibatkan kekerasan fisik dalam penerapannya.

 Di negara kita, hisbah masuk ke dalam sistem hukum. Pelaksananya adalah aparat penegak hukum (polisi, jaksa dan hakim). Polisi yang mempunyai otoritas untuk melakukan tindakan fisik awal terhadap pelaku maksiat yang juga pelanggar hukum. Lalu jaksa yang menuntut dan hakim yang akan memutuskan hukumannya.

 Pengurus dan anggota sebuah organisasi Islam tidak berwewenang melakukan hisbah, apapun alasannya. Yang boleh dilakukan apabila melihat kemaksiatan, segera melapor ke polisi. Hisbah yang dilakukan selain oleh polisi, itu sebenarnya persekusi. Persekusi adalah suatu bentuk kedzaliman, yang dilarang oleh Allah swt dan Rasul-Nya.

 Yang lebih penting lagi, pengurus dan angggota organisasi Islam, mengubah cara pandang terhadap pelaku maksiat. Mengubah cara pandang bukan berarti mengubah suatu kemaksiatan menjadi ketaatan, bukan juga berarti membenarkan kemaksiatan yang dilakukan. Tetapi melihat sisi lain dari pelaku maksiat. Bisa jadi maksiat itu menjadi jalan tobat dan taat pelakunya.

 Umar bin Khaththab, Khalid bin Walid dan ‘Amru bin ‘Ash, di antara sahabat Nabi saw yang ahli taat setelah melakukan maksiat kepada Nabi saw. Malik bin Dinar, Fudhail bin Iyad, dan Abdullah bin Mubarak di antara wali Allah yang kemaksiatannya menjadi jalan sampai kepada Allah swt.

 Kata Syaikh Ibnu ‘Atha’illah: “Dan Dia menetapkan atas dirimu suatu dosa yang menjadi sebab wushul (sampai) kepada-Nya”. “Kemaksiatan yang melahirkan kehinaan dan perendahan diri lebih daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan dan pemuliaan diri.”

 Syaikh Zarruq menjelaskan: Mungkin Dia menetapkan atas diri seseorang suatu dosa yang menjdi sebab sampainya seseorang kepada Allah. Sebab, Dia membukakan untuknya pintu-pintu hidayah dan kebaikan yang dasarnya ada tiga hal: rasa pecah dan hancur hatinya, serta diiringi tobat.

 Bisa jadi orang yang dipersekusi lebih mulia ketimbang pengurus dan anggota organisasi Islam yang melakukan “hisbah”. “Hisbah” yang dilakukan selain oleh aparat, sejatinya merupakan sebuah persekusi atau kedzaliman. Dan itu adalah maksiat (*).

Halo Pembaca XNews.id, Xpresikan Penilaianmu Terhadap Konten Berita XNews.id, Ini Akan Menjadi Masukan Bagi Kami Tim Redaksi XNews.id, Berikan Rate Penilaian Dengan Menekan Gambar Bintang Dibawah Ini, Terima Kasih !!