Menjadi Manusia Baru Pasca Ramadan

oleh -11573 Dilihat

_Oleh: Makmun Rasyid, M.Ag_

Umat Muslim akan usai menunaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, dan akan diakhiri dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Rangkaian puasa di siang hari, tarawih dan witir, shalat tahajjud, mengkhatamkan Al-Qur’an, i’tikaf dan sahur bersama di masjid menjadi rutinitas harian saat Ramadan. Namun, Idul Fitri bukan sekedar tiket kelulusan sebuah pendidikan, tapi secara psikologis-teologis, ia merupakan momentum mengingat asal kejadian manusia yang taat beribadah dan beragama. Dilanjutkan proses menjadi pribadi yang memanusiakan manusia, yakni saling berbagi kepemilikan duniawi. Manifestasi itu berupa pemberian zakat fitrah kepada fakir miskin.

Pembicaraan seputar puasa, umumnya masih bersifat fisik. Padahal puasa yang efektif adalah yang memuasakan seluruh dimensi, baik lahir maupun batin kepada Allah SWT. Disini puasa diibaratkan pendidikan tertinggi yang dapat menghilangkan daki-daki dosa dan menghantarkan manusia berhati bestari. Itulah tujuan puasa, “menjadi manusia bertakwa”. Takwa dalam pengertian, penggabungan antara kesalihan spiritual dengan kesalihan sosial.

Secara spiritual, Idul Fitri diartikan sebagai pucuk kemenangan umat Islam. Ia berhasil mengendalikan seluruh aspek lahir-batin dan memerdekakan jiwanya dalam keterkungungan nafsu. Imam Ghazali menyebutnya sebagai sebuah proses transformasi dari manusia yang diperbudak nafsu menjadi manusia hakiki. Semangat kebertauhidan dan keberimanan yang terjelmakan menjadi manusia baru yang berwajah tampan, berhati lemah lembut, berucap penuh tata krama, bertindak penuh kebijaksanaan, bermuamalah penuh perdamaian dan bermedia sosial penuh moral.

Lahirnya manusia baru itu hanya bisa melalui sebuah pendidikan puasa Ramadan. Pendidikan itu seperti potongan surga yang dihidangkan kepada manusia. Di dalamnya ada kolam yang berair jernih lagi tenang. Saat manusia menjeburkan badannya, tampak jelas siapa dirinya yang sejati. Disediakan pula oleh-Nya batu gosok untuk membersihkan lahir-batin. Betapa sayang dan kasihnya Tuhan kepada hambanya. Meski segudang dosa dan noda kita lakukan, meski seperangkat pengkhianatan kita lakukan. Baik khianat kepada-Nya, kepada manusia lainnya maupun kepada negara. Janji kita sebelum diturunkan ke muka bumi, kita khianati. Tuhan tak bosan-bosan memberikan kasih sayang-Nya kepada hamba-hambanya.