Dana Desa untuk Ketahanan Pangan

oleh -10774 Dilihat

SEPANJANG 2020-2021, pandemi Covid-19 begitu cepat menyebar dan berdampak buruk bagi kehidupan warga, termasuk ekonomi negara-negara di dunia. Beragam usaha ekonomi berguguran, minimal dipaksa mengurangi produksinya. Sebabnya, ada hambatan spasial mendatangkan bahan hingga memasarkan hasil produksi, serta turunnya daya beli konsumen.

Ironisnya, ketika daya beli warga dunia meningkat, justru produksi pangan global belum sepenuhnya pulih. Ditambah lagi, muncul tantangan anjloknya pasokan pangan akibat perang Rusia dan Ukraina, yang memutus pasokan global 72 persen minyak bunga matahari sebagai bahan produksi minyak goreng.

Ini memainkan karambol keputusan politik negara-negara untuk menahan ekspor, demi memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri. Timbul larangan eskpor gandum oleh pemerintah Hungaria, Bulgaria, Serbia, Kazakhtan. Larangan ekspor jagung pemerintah Argentina. Pemerintah Mesir melarang ekspor minyak goreng. Pemerintah Malaysia juga menahan ekspor ayam.

Di Indonesia, sepintas petani yang masih berproduksi bisa mendanai konsumsinya melalui usahatani. Indikasinya, nilai tukar petani tetap di atas 100 walaupun pas-pasan; 101,65 pada tahun 2020, lalu 104,64 pada 2021. Namun, ternyata luas tanaman pangan nasional menyusut dari 10,7 juta hektare pada tahun 2019 menjadi 10,4 juta hektare pada 2021. Alhasil, produksinya juga merosot dari 54,6 juta ton menjadi 54,4 juta ton.

Sepanjang pandemi, Global Food Security Index 2021 mencatat penurunan indeks ketahanan pangan Indonesia. Penurunan tertinggi pada dimensi keterjangkauan pangan, dari 79,0 menjadi 74,9. Artinya 4,1 persen warga kian sulit mengakses pangan.