Chat-GPT, Musuh atau Kawan Perguruan Tinggi?

oleh -1018 Dilihat

SEJAK infiltrasi Chat-GPT, yaitu sebuah chatbot berbasis AI (artificial intelligent) di dunia pendidikan tinggi, mengerjakan tugas kuliah bukan hal yang sulit lagi untuk mahasiswa. Hal itu disebabkan Chat-GPT dapat melakukan komunikasi tertulis yang interaktif dengan manusia dan menghasilkan respons jawaban yang sangat human karena mudah dipahami.

Chat-GPT ialah sebuah model bahasa besar yang dikembangkan dan dilatih Open-AI. Chat-GPT dapat membantu manusia untuk mengerjakan berbagai tugas, seperti menjawab pertanyaan dan menulis teks. Hal itu dapat terjadi karena Chat-GPT mampu mengolah informasi dari input teks yang dituliskan seseorang kemudian informasi tersebut diolah sehingga menghasilkan jawaban terbaik yang berasal dari model Chat-GPT.

Oleh karena itu, kehadiran Chat-GPT dapat dianggap sebagai revolusi dalam sistem pendidikan di perguruan tinggi; atau justru perlu dipertanyakan perannya sebagai musuh atau kawan bagi sivitas akademika perguruan tinggi, termasuk mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Kemampuan Chat-GPT yang berdampak pada peran mahasiswa ialah dalam memfasilitasi mahasiswa untuk mempersiapkan diri saat proses ujian tengah semester (UTS) atau ujian akhir semester (UAS). Selain itu, Chat-GPT pun dapat membantu dalam menyelesaikan tugas berupa tulisan esai sampai dengan karya ilmiah seperti skripsi, tesis, dan disertasi. Misalnya, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan tugas akhir/skripsi dapat menggunakan Chat-GPT untuk membantunya memahami topik yang akan diteliti. Itu juga membantu memperkaya tulisan mahasiswa dengan rekomendasi artikel atau referensi terkini yang relevan dengan topiknya atau bahkan membantu mahasiswa berlatih untuk menjawab pertanyaan yang mungkin ditanyakan dosen penguji skripsi.