Inspirasi Jumat Prof Rokhmin Dahuri: Mencari Kebahagiaan Hakiki

oleh -64 Dilihat

XNEWS.ID – Kebahagiaan, tentu sudah banyak orang dalam kurun sejarah yang panjang mencoba untuk mengurai dan menjabarkan. Kadang sebagian orang menerjemahkan, kekuasaan besar adalah kebahagiaan. Kadang ada juga yang mengartikan, kekayaan adalah sumber kebahagiaan. Ada pula yang meletakkan kebahagiaan pada tingkat popularitas sebuah nama. Tapi rupanya, sejarah juga memberi contoh kepada kita, bahwa tiga hal di atas, bukan pula sumber utama rasa bahagia.

Jika memungkinkan, kita bisa bertanya kepada mantan presiden Korea Selatan, tentang alasan mengapa dia membunuh dirinya sendiri pada Sabtu, 23 Mei 2009. Bukankah dia telah dan pernah berada pada puncak kebahagiaan sebuah negara besar? Atau tentang popularitas. Kita bisa mengumpulkan nama mulai dari Michael Jackson, Elvis Presley, Marlyn Monroe, nama yang popularitasnya nyaris tak pernah kurang dan luntur. Atau nama seperti Svend Fri, pebulutangkis dunia yang mati gantung diri di apartemen mewahnya di kota Kopenhagen, Denmark pada tahun 2003. Bahkan yang terakhir adalah Whitney Houston, ditemukan meninggal di bak kamar mandinya sendiri di dalam sebuah hotel, kemungkinan besar dia tenggelam akibat narkoba yang dikonsumsinya.

Kurang apa? Semua dimilikinya, ketenaran, popularitas yang hampir tak terbatas, akses pada banyak hal yang diinginkan, uang dan kekayaan. Semua mereka miliki. Lalu apa yang membuat mereka memutuskan untuk mengakhiri nyawa? Bukankah mereka telah memiliki segalanya? Ada satu yang tak mereka miliki, kebahagiaan sejati!

Problem dan kehidupan adalah dua hal yang sudah menjadi seperti sebuah koin. Tak terpisahkan. Karena itu kita memiliki sebuah kalimat yang menggambarkan keduanya tak terpisahkan: Masalah Kehidupan! Setiap kehidupan, selalu memiliki masalah. Dan masalah, akan selalu mengantarkan manusia pada kehidupan yang lebih baik jika mampu mengatasinya. Mencintai hidup, berarti siap menghadapi masalah. Takut menghadapi masalah, maka sama artinya dengan kesulitan menghadapi hidup.

Melepaskan hidup untuk menghindari masalah, artinya mati tanpa hasil sempurna. Menghindari masalah dan melanjutkan hidup, juga sama dengan lari dari kenyataan yang sesungguhnya. Maka, hadapilah masalah dan teruskan hidup kita dengan baik dan benar.

Hampir semua orang mencintai hidup. Tapi tak semua orang menyukai masalah. Bermacam sikap manusia menghadapi masalah. Ada yang tenang dan penuh senyuman. Bahkan orang di sekelilingnya tak mengetahui masalah apa yang sedang menimpanya. Ada pula yang menghadapi masalah dengan kalang kabut, penuh ratap, merugikan orang lain, dan membuat orang-orang di sekelilingnya sibuk untuk terlibat dengan masalahnya. Ada pula orang yang lari dari masalahnya, sibuk mencari kambing hitam, atau mengakhiri hidupnya ketika masalah datang menyapanya seperti contoh di atas yang terjadi pada orang-orang besar dalam sejarah.