BincangMina MAI, Prof. Rokhmin Dahuri: Sektor Akuakultur Seharusnya Menjadi Penolong Bagi Tenaga Kerja Baru

oleh -127 Dilihat

XNEWS.ID – Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Rabu (15/5), menggelar Webinar BincangMina dengan tema Inovasi Biofarmaka Melawan Penyakit Ikan dan Udang. Webinar membahas tentang inovasi-inovasi dari para ahli di Indonesia untuk mendukung kemajuan industri akuakultur.

Ketua Umum MAI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menyatakan bahwa sektor akuakultur atau perikanan budidaya seharusnya bisa menjadi panasea atau penolong bagi sebagian besar permasalahan bangsa kita, termasuk membantu tenaga kerja baru setiap tahunnya.

Pertama, secara ekonomi banyaknya pengangguran, kemiskinan dst. Itu karena pertumbuhan ekonomi kita selama 10 tahun terakhir hanya mampu 5 persen, ujar Prof. Rokhmin Dahuri dalam sambutannya melalui zoom.

Untuk menolong tenaga kerja baru 3,5 juta (berusia 15-45 tahun) per tahun. Kalau pertumbuhan ekonomi hanya 5 persen, sementara pertumbuhan ekonomi pada era Presiden Jokowi hanya mampu menyerap 200 ribu orang per 1 persen pertumbuhan, berarti hanya 1 juta tenaga kerja.

Padahal setiap tahun, anak-anak muda yang berumur 14 menjadi 15 tahun ada 3,5 juta. Jadi setiap tahun kita defisit 2,5 juta, sebut Guru Besar Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan – IPB University itu.

Bila dilihat statistik soal pengangguran atau pekerja informal sekarang 6 juta. Saat ini, sumbangan sektor akuakultur terhadap gross domestik atau pertumbuhan ekonomi hanya 1,25 persen. Sedangkan untuk kelautan dan perikanan secara keseluruhan hanya 2,85 persen.

Padahal. Prof. Rokhmin Dahuri mencontohkan dengan membuka usaha tambak udang seluas 100 ribu hektare per tahun saja dapat menyumbangkan 2 persen pertumbuhan ekonomi per tahun. Itu baru 1 komoditas. Saat ini kita baru mampu 340 ribu hektar tambak udang, sementara India sudah hampir 1 juta, katanya.

Prof. Rokhmin Dahuri menuturkan perikanan budidaya yang potensinya paling besar di Indonesia, tidak hanya menghasilkan sumber protein hewani meliputi budidaya ikan, krustasea, dan moluska, tetapi juga menghasilkan bahan mentah untuk industri farmasi hingga kosmetik.

Malu sekali kita penghasil teripang terbesar tapi gamat kita impor dari Malaysia. Indonesia benar- benar mesin diesel yang sangat lambat sekali. Artinya memang hilirisasi atau pengolahan kita lemah. Kita demen atau senang jual barang mentah, ujarnya.

Hal ini akan terus saya ungkapkan, karena karena aspek lain jika dikembangkan maka daya tolong sektor kita ini terhadap permasalahan hidup bangsa banyak sekali selain pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, kedaulatan pangan, kedaulatan energi juga kita lakukan, tandas Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong Tahun 2001-2004 ini.